Tel: #
Email: info@bungkarna.com

TENTANG BK

BUNG

BUNGKARNA

Karna Suswandi (Bung Karna) adalah putra daerah Situbondo yang memiliki cita-cita untuk membangun Tanah kelahirannya Kabupaten Situbondo. Bung Karna lahir di Desa Curah Tatal Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo. Pada tanggal 15 April 1967. Segudang pengalaman dan prestasi telah di capainya melalui jabatan strategis di Kabupaten Lumajang dan Situbondo

SOSOK BK

Kadis PUTR Lumajang yang Juga Bendahara PCNU Bondowoso Karna Suswandi Memulai Karir Birokrasi Dari Bawah Lumajang, Motim Drs. H. Karna Suswandi, MM merupakan sosok yang tak pernah berhenti melahirkan inovasi baru dan cerdas. Beberapa bulan setelah menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Pemkab Lumajang, kembali melahirkan inovasi baru, yaitu Ngapling (Ngaspal Keliling) dan Incar (Irigasi Lancar). Bagaiamana rekam jejaknya mengawali karir birokrasi sebelum akhirnya melanjutkan karir kepegawaiannya di kabupaten yang dikenal dengan Kota Pisang ini? Kesuksesan Karna Suswandi dalam meniti karir birokrasi dimulai sejak tahun 1993 sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang merintis karir ke-PNS-annya dari level paling bawah sebagai staf Kepegawaian di Kantor Departemen Penerangan. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1994, Karna Suswandi diangkat menjadi Juru Penerang (Jupen) selama 6 tahun di Kecamatan Cermee. Karirnya sebagai PNS moncer seiring dengan dihapusnya Departemen Penerangan oleh pemerintah pada tahun 2000 yang langsung dipromosikan menjadi Kepala Seksi Pemerintahan (Kasi Pem) di Kecamatan Cermee. Karna Suswandi mengakui, jabatan ini sebenarnya bertolak belakang dengan pekerjaan sebelumnya. Namun, siapa sangka jabatan yang baru diembannya itu justru mampu dikerjakan dengan sebaik-sebaiknya dan suskes menyelenggarakan pemilihan Badan Perwakilan Desa (BPD) serentak se-Kecamatan dengan aman dan sukses. Suksesnya pelaksanaan pemilihan BPD serentak membuat Camat Cermee memberikan kepercayaan dnegan mengangkatnya menjadi Plt Kepala Desa Solor, Kecamatan Cermee. Karna Dari jabatan inilah, kemampuan dalam mengelola pemerintahan mulai terlihat dan karirnya kian moncer dan melejit sehingga pada tahun 2002, Karna Suswandi diangkat menjadi Sekretaris Camat Cermee. Di tempat inilah, Karna Suswandi juga tidak luput dari prestasi dan pujian oleh rekan kerjanya. Bahkan, Karna Suswandi juga sempat mendapatkan penghargaan Bupati Bondowoso karena Kecamatan Cermee menjadi kecamatan yang paling sukses dalam penuntasan penyetoran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2004, Karna Suswandi dimutasi menjadi Sekretaris Camat Grujugan dan setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2005 akhir diangkat menjadi Camat Pakem hingga tahun 2009. Inovasi dan pelayanan terbaik tetap menjadi pondasi utama bagi Karna Suswandi saat memimpin. Banyak mantan staff pegawainya di birokrasi yang mengenal sosok Karna Suswandi sebagai pemimpin yang tak bisa hanya duduk diam menunggu pekerjaan. Namun justru datang “menjemput” pekerjaan yang awalnya hanya bertujuan untuk memberikan pelayanan terbaik masyarakat, tapi justru memperoleh apresiasi dari banyak pihak. Salah satunya sebagai Juara 1 Kebersihan tingkat Kabupaten pada tahun 2006. Kerjanya yang cekatan, responsif terhadap permasalahan, siap kerja 24 jam, dan dekat dengan masyarakat serta memiliki kreatifitas membuatnya dipercaya pimpinan dan disukai masyarakat di sekitar dimana Karna Suswandi ditempatkan. Selain itu, loyalitasnya yang tinggi terhadap pekerjaan dan pimpinannya membuat Karna Suswandi menjadi seorang birokrat yang disegani dan juga dikagumi oleh teman seperjuangannya. Akhirnya, pada tanggal cantik dan unik, tepatnya pada tanggal 9 bulan 9 tahun 2009, Karna Suswandi kembali mendapatkan promosi jabatan dengan diangkat menjadi Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) Bondowoso. Pada tahun 2012, Karna Suswandi naik ke eselon II setelah diangkat menjadi Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) yang saat ini berubah menjadi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Di tempat inilah, Karna Suswandi harus kembali memutar otak untuk mengeluarkan kreatifitasnya dalam rangka pengentasan kemiskinan dengan menerapkan ekonomi kerakyatan. Salah satu upaya penggalakan ekonomi kerakyatan dengan cara memberdayakan masyarakat. Berhasil menahkodai Bapemas dalam kurun waktu kurang lebih sembilan bulan, Karna Suswandi kemudian dipercaya sebagai Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdangan (Diskoperindag) pada tahun 2013. Di tempat inilah Karna Suswandi mampu memberikan warna dengan berbagai inovasi baru dalam mengembangkan UMKM di Bondowoso. Sudah menjadi hal yang lumrah, bahwa Karna Suswandi memiliki kratifitas yang selalu baru dan memiliki rencana-rencana yang jitu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya menjadi inisiator pembangunan Pujasera di dekat SMA Negeri 2 Bondowoso. Dinilai sukses menahkodai Diskoperindag selama satu tahun lebih, Karna Suswandi kembali mendapat kepercayaan dengan diangkat menjadi Kepala Dinas Pengairan pada tahun 2014. Di sinilah, Karna Suswandi seakan-akan menyulap Dinas Pengairan yang sebelumnya tanpa prestasi menjadi satu-satunya dinas yang bisa membawa nama harum Bondowoso mulai di tingkat Provinsi hingga Nasional. (fit) Prestasi dan Penghargaan Karna Suswandi Lumjang, Motim Tahun pertama Karna Suswandi menjabat sebagai Kepala Dinas Pengairan Pemkab Bondowoso sukses meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Tata Kelola Irigasi melalui salah seorang Juru Pengairan yang bertugas di Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan Bondowoso. Sehingga Karna Suswandi diundang Presiden RI, Jokowi Dodo ke Istana Negara pada hari Jumat, 16 Januari 2015 setelah dinobatkan sebagai Juara Dua tingkat Nasional pada acara Silaturrahim dengan Petani Pemenang Adhikarya Pangan Nusantara (APN) dan Pemenang Pemilihan Petugas Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dan Rawa Teladan tingkat Nasional tahun 2014. Pada tahun 2015, Dinas Pengairan Bondowoso di bawah tangan kreatifnya kembali mendapat penghargaan menjadi Juara Nasional lomba Operasi dan Pemeliharaan (OP) Jaringan Irigasi kategori Kepala UPTD. Sebelum meraih Juara Nasional, Bondowoso lebih dulu bersaing dengan enam UPTD Pengairan terbaik di Jawa Timur, UPTD Turen Kabupaten Malang, UPTD Ambulu Kabupaten Jember, UPTD Sumengko Kabupaten Mojokerto, UPTD Pesanggrahan Kabupaten Banyuwangi dan UPTD Paiton Kabupaten Probolinggo. Penghargaan ini pulalah yang akhirnya Bondowoso dinobatkan sebagai kiblat Sistem Irigasi Nasional dengan inovasinya berupa pelaporan melalui sistem SMS dan Whatsapp. Inovasi ini berfungsi untuk proses pembagian air di lapangan dengan pencatatan debit air yang dilakukan setiap hari oleh juru pengairan. Sehingga Juru Pengairan bisa mengontrol distribusi air ke petak-petak yang memang dibutuhkan petani. Sejak diberlakukannya inovasi ini, para petani tidak lagi mengeluh kekurangan karena distribusi air bisa dibagikan secara merata dan adil. Tahun berikutnya, pada tahun 2016 Karna Suswandi kembali membawa harum nama Bondowoso di tingkat Nasional. Pasalnya, Dinas Pengairan Bondowoso kembali meraih penghargaan setelah menjadi juara Nasional lomba OP Jaringan Irigasi dan Rawa Teladan kategori Juru Pengairan. Bondowoso mewakili Provinsi Jawa Timur setelah dinobatkan juara pertama tingkat Provinsi. Di tingkat Nasional, Bondowoso berhasil menyingkirkan pesaing terberatnya, yaitu Jawa Tengah yang meraih juara II, juara III diraih Sulawesi Tengah, juara IV diraih Jawa Barat dan juara V diraih oleh Lampung. Bondowoso dinilai cukup bagus dan meyakinkan para tim juri terkait operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dan rawa teladan. Salah satu satu inovasi yang menjadi andalannya adalah Thompson Partable yang merupakan alat pengukur debit air sehingga pembagian air bisa maksimal dengan waktu yang maksimal dan air yang tercukupi. Begitu juga ketersediaan dan kebutuhan air di masing-masing Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) bisa tercukupi. Dengan pengukur air ini, para juru pengairan dan HIPPA merasa nyaman serta bisa bekerja efektif. Debit air akan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan petani. Tengah berada di puncak kesuksesan dengan seabrek penghargaan di Dinas Pengairan membuat Karna Suswandi dipercaya menduduki jabatan Plt Kepala Dinas Pertanian. Meski hanya menjabat kurang lebih selama tiga bulan di tahun 2017, Karna Suswandi melahirkan inovasi Bondowoso Istana Organik yang sebelumnya sudah dilaunching Bupati Amin Said Husni. Karna Suswandi memiliki komitmen pada konsep pertanian organik yang lebih menekankan pada upaya melestarikan lingkungan dan kembali ke alam. Bondowoso sudah menjadi percontohan Nasional dan memiliki lahan terluas di Indonesia untuk pertanian organik. Tahun 2018, ada perubahan Susunan Organisasi Tata Kerja (SOTK) di lingkungan Pemkab Bondowoso. Salah satunya adalah Dinas Pengairan yang digabung dengan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) menjadi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bondowoso. Pengisian Kepala Dinas PUPR ini sempat menghangatkan situasi politik di Bondowoso yang mengerucut kepada dua nama, antara Ir. Mujianto, MM yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas BMCK dengan Drs. H. Karna Suswandi, MM yang menjabat sebagai Kepala Dinasi Pengairan. Karna Suswandi sempat diragukan menahkodai Dinas PUPR dengan alasan tidak memenuhi kualifikasi pendidikan sebagai orang teknik. Namun, berkat keberhasilan dengan berbagai prestasi yang diraihnya membuat Bupati Amin Said Husni yakin dan memberi kepercayaan kepada Karna Suswandi untuk menahkodai Dinas PUPR tersebut. Pilihan Bupati Amin Said Husni rupanya tidak salah setelah kepercayaan yang diberikannya tidak disia-siakan. Itu dibuktikan dengan membuat gebrakan yang tak pernah dilakukan Kepala Dinas sebelumnya berupa inovasi dalam meningkatkan kualitas pembangunan jalan di wilayah Kabupaten Bondowoso, yaitu trial perkerasan jalan di beberapa titik yang tidak hanya menjadi ajang ujicoba dengan peralatan yang baik, melainkan sekaligus mengatasi jalan yang rusak. Sehingga trial ini mampu memberikan kontribusi tanpa menggunakan dana APBD, bahkan mampu menghemat anggaran hingga belasan miliar rupiah. Karna Suswandi juga melakukan inovasi baru meningkatkan swadaya masyarakat dengan membentuk program Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan Daerah Aliran Sungai dan Irigasi (Gemapildasi) yang bekerjasama dengan beberapa instansi lain guna mewujudkan peningkatan konservasi lingkungan agar kelestarian lingkungan umumnya dan sumber daya air khususnya dapat terjaga dengan baik. Tujuan program ini adalah terbentuknya sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat agar pelaksanaan konservasi berjalan lancar, terjaga, dan bermanfaat untuk masyarakat. Selain itu, Karna Suswandi juga melahirkan inovasi Jalan Wali yang merupakan konsep pembangunan jalan berwawasan lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Program Jalan Wali ini digagas karena terinspirasi dari salah satu tokoh kharismatik NU yang saat ini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, KHR As'ad Syamsul Arifin. Dalam sejarah perjuangan, KHR As'ad Syamsul Arifin tidak lepas dari tanah Bondowoso. Di tahun pertamanya menjabat Kepala Dinas PUPR, Karna Suswandi meneruskan prestasinya dengan mencetak rekor penghargaan hattrick secara burturut-turut. Itu menyusul setelah menjadi juara Nasional lomba OP Jaringan Irigasi dan Rawa Teladan kategori Juru Pengairan dan HIPPA Sido Makmur yang dinobatkan sebagai Juara Satu dalam Lomba OP Irigasi Partisipatif Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) tingkat Nasional tahun 2017 untuk yang ketiga kalinya. Semua inovasi dan segudang prestasi itulah yang menjawab semua keraguan publik yang sebelumnya diragukan karena dinilai tidak memiliki latar belakang sebagai orang teknis. Sederet penghargaan yang diraih dan rekam jejaknya yang bagus membuat Bupati Amin Said Husni menilai Karna Suswandi memiliki kemampuan dan dipercaya menjadi Plt Sekda. Penunjukan Karna Suswandi dinilai sosok yang tepat karena bisa berkomunikasi dengan semua pihak, tidak hanya di internal Pemerintah Kabupaten Bondowoso tetapi juga eksternal, baik instansi vertikal lain, seperti ormas, LSM, jurnalis dan juga partai politik. Penunjukkannya sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan eselon II karena dianggap para senior Karna Suswandi masih banyak. Namun, adanya pro dan kontra itu tidak berkepanjangan karena Karna Suswandi berhasil melakukan pendekatan personal dengan mendatangi sejumlah kepala dinas. Karna Suswandi membuktikan kemampuannya itu selama kurang lebih satu tahun yang berhasil melakukan komunikasi secara efektif dengan unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) guna mensinergikan berbagai program yang ada. Bahkan, Karna Suswandi juga mampu melakukan komunikasi politik dengan DPRD dalam rangka membangun sinergi merencanakan pembangunan serta menjalankan politik anggaran. Selain memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik, Karna Suswandi juga memiliki kemampuan administrasi yang bagus. Saat yang bersamaan, Karna Suswandi juga dipercaya menjadi Pj Bupati Bondowoso. Meski waktunya hanya sekitar satu minggu, amanah yang diembannya itu menjadi bukti sosok Karna Suswandi memiliki integritas dan kemampuan yang mumpuni sehingga dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Pj Bupati Bondowoso tersebut. Karna Suswandi menjalankan tugasnya dengan baik hingga Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso terpilih dilantik oleh Gubernur Jawa Timur. Meski bertabur prestasi dan penghargaan, Karna Suswandi akhirnya dimutasi menjadi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Namun, mutasi itu tak membuatnya patah semangat dan tetap melahirkan terobosan baru berupa Perpustakaan Digital dengan aplikasi E-Beca, Elektronic Bendebesah Catalog. Karna Suswandi justru menjadi satu-satunya Kepala OPD dan yang pertama melakukan terobosan dengan inovasi baru sejak Bupati Salwa Arifin dilantik. Perpustakaan Digital itu kemudian dilaunching pada 16 Mei 2019 dengan Aplikasi E-Beca (Elektronic Bendebesah Catalog) dan diresmikan oleh Wakil Bupati, H. Irwan Bachtiar Rachmat. Rekam jejak Karna Suswandi yang berhasil membawa harum nama Bondowoso di kancah Nasional dengan sederet inovasi dan penghargaan membuat dilirik daerah lain yang datang langsung ke Bondowoso melakukan study tiru. Integritas, kemampuan dan rekam jejaknya selama ini membuat Karna Suswandi berhasil meyakinkan Bupati Lumajang, H. Thoriqul Haq untuk memilihnya sebagai Kepala Dinas PUTR Pemkab Lumajang. Akhirnya, pada hari Kamis tanggal 4 Juli 2019, Karna Suswandi resmi dilantik sebagai Kepala Dinas PUTR Pemkab Lumajang. (fit)

INOVASI & PENGHARGAAN

Inovasi Bung Karna dan Meraih Penghargaan Keberhasilan Bung Karna dalam menahkodai Dinas Pengairan begitu juga saat menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemkab Bondowoso banyak mengukir prestasi dan berulangkali membawa harum nama Bondowoso dengan berbagai penghargaan yang diraihnya. Keberhasilan Bung Karna melahirkan inovasi baru membuat daerah lain melirik Kabupaten Bondowoso untuk datang melakukan study banding terkait sistem saluran irigasi setelah Kementerian PUPR RI menetapkan Bondowoso menjadi kiblat Sistem Irigasi Nasional. Daerah lain yang sudah pernah belajar ke Bondowoso diantaranya Pemkab Probolinggo, DPRD dan Pemkab Bojonogoro, Pemkab Maros Sulawesi Selatan, DPRD dan Pemkab Jembrana Bali, Pemkab Pasuruan, Pemkab Lumajang dan lain-lain. Ketertarikan daerah lain untuk belajar ke Bondowoso tidak lepas dengan prestasi yang diraih Bung Karna saat menjabat sebagai Kepala Dinas Pengairan dan Kepala Dinas PUPR di tingkat Nasional. Prestasi yang diraihnya adalah juara Nasional lomba Operasi dan Pemeliharaan (OP) Jaringan Irigasi kategori kepala UPTD tahun 2015, juara Nasional lomba OP Jaringan Irigasi dan Rawa Teladan kategori Juru Pengairan tahun 2016 dan juara satu dalam Lomba OP Irigasi Partisipatif Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) tingkat Nasional melalui HIPPA Sido Makmur tahun 2017. Semua prestasi dan penghargaan itu diraih karena ada pembeda berupa inovasi baru yang dikembangkan dan belum dilakukan di daerah lain. A. Inovasi Gemapildasi Gemapildasi merupakan inovasi baru yang bekerjasama dengan beberapa instansi lain guna mewujudkan peningkatan konservasi lingkungan agar kelestarian lingkungan umumnya dan sumber daya air khususnya dapat terjaga dengan baik. Tujuan program ini adalah terbentuknya sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat agar pelaksanaan konservasi berjalan lancar, terjaga, dan bermanfaat untuk masyarakat. Semangat program ini karena sungai memiliki peranan penting dan vital bagi kehidupan manusia. Tidak hanya berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya ekosistem, tapi juga sumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya karena dinamika kehidupan manusia senantiasa berada di sekitar sungai. Lahirnya program Gemapildasi ini dilatarbelakangi kepedulian Bung Karna yang merasa tidak semua orang, lembaga dan instansi memiliki kepedulian yang sama terhadap keberadaan sungai. Padahal, di jaman modern, sungai tetap punya peran penting, baik secara fisik, sosial maupun kultural. Sehingga diyakini untuk membenahi sungai-sungai yang ada tidak cukup dengan pendekatan teknis semata. Tapi juga mesti dengan pendekatan sosial budaya. Kombinasi pendekatan seperti ini dianggap Bung Karna masih jarang dilakukan. Kegiatan Gemapildasi ini diantaranya adalah rutin membersihkan saluran irigiasi dan melakukan penghijaun di sepanjang saluran irigasi. Bung Karna melalui Dinas Pengairan juga rutin membagikan ribuan bibit pohon nangka dan sukun kepada juru air di seluruh UPTD yang menjadi binaannya. Pembagian ribuan bibit pohon ini sebagai salah satu wujud komitmen Dinas Pengairan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan debit air. Lokasi konservasi pada umumnya ditanam di saluran DAS Sampean, karena sekitar 99% wilayah Kabupaten Bondowoso masuk dalam DAS Sampean khususnya di sepanjang daerah bantaran sungai Dam saluran irigasi. Secara formal pencanangan gerakan ini dilaksankan pada 17 Desember 2015 di Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari, bersamaan dengan kegiatan bulan menanam pohon nasional yang dilakukan Dishutbun. Pada 8 Januari 2016, kemudian ditindaklanjut oleh Dinas Pengairan Bondowoso melakukan melakukan penanaman di sekitar Dam Gubri. Kemudian penanamannya dilanjutkan pada 15 Januari 2016 di UPTD Prajekan dan UPTD Wonosari. Dilanjutkan penanaman di wilayah UPTD Tlogosari dan UPTD Grujugan. Begitulah seterusnya hingga di sepanjang sungai ditanami pohon yang mempunyai estetika untuk menambah keindahan saluran dan waduk. Inovasi ini melahirkan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat agar pelaksanaan konservasi berjalan lancar, terjaga, bermanfaat untuk masyarakat. Sementara pohon yang ditanam adalah bambu dan tanaman keras lainnya. Pemilihan pohon bambu menurut karena bambu memiliki keunggulan antara lain, bambu merupakan tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas pada batangnya serta merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan lebih cepat tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat ditanam. Bambu sebagai tanaman yang memiliki total luas daun yang besar dan berbulu halus serta mempunyai jaringan akar yang luas sehingga dapat ikut menyerap dan mengikat berbagai bahan dan gas pencemar di udara, tanaga dan air. Sehingga bambu mempunyai peranan penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Sehingga penanaman bambu pada hamparan lahan kritis yang luas ini diharapkan dapat meningkatkan daya dukung lingkungan. Selain bambu, juga ada tanaman keras lainnya seperti jati, sengon, dan jabon yang secara prinsip akarnya bisa menahan tanah, meningkatkan laju infiltrasi dan perkolasi serta mengurangi laju erosi. Sehingga kelestarian sumber daya alam baik fisik dan hayati untuk menciptakan ekosistem yang seimbang terwujud. Karena ekosistem yang seimbang akan mendukung adanya peningkatan kesejahteraan dan kualitas kehidupan manusia. Melestarikan pemanfaatan dan kemampuan sumberdaya alam fisik dan hayati serta ekosistem agar serasi dan seimbang. B. Jalan Berwawasan Lingkungan (Wali) Jalan Wali ini merupakan konsep pembangunan jalan berwawasan lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Program Jalan Wali ini digagas karena terinspirasi dari salah satu tokoh kharismatik NU yang saat ini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, KHR As'ad Syamsul Arifin. Dalam sejarah perjuangan, KHR As'ad Syamsul Arifin tidak lepas dari tanah Bondowoso. Program Jalan Wali mendapat dukungan dari masyarakat guna memiliki rasa tanggungjawab bersama untuk menjaga dan memelihara jalan termasuk pelindung jalan. Guna mensukseskan inovasi ini, Bung Karna menyediakan ratusan ribu bibit berbagai jenis yang terus ditanam di sepanjang jalan yang baru dibangun. Pasalnya, jalan yang mudah rusak diakibatkan oleh sistem drainase yang kurang maksimal, saluran irigasi yang tersumbat, serta kurangnya pohon ayoman di sepanjang jalan. Sehingga saat terjadi hujan dan banjir, genangan air di badan menyebabkan kerusakan. Sehingga lahirlah inovasi Jalan Wali untuk mengatasi kerusakan jalan akibat genangan air dan lainnya. Dalam kegiatannya, Bung Karna bersama warga melakukan gerakan tanam pohon di sejumlah titik yang salah satunya di sepanjang jalan menuju kawasan Beto Soon atau kawasan wisata yang mulai dikenal dengan Stonehange Van Java, di Kecamatan Cermeee. Ditanamnya pohon ini sebagai bagain dari upaya untuk menjaga nilai ekonomis jalan, sekaligus melestarikan alam. Dimana jalan yang dalam pembangunannya bukan hanya memperhatikan kondisi fisik yang bagus, melainkan juga mempertimbangkan faktor-faktor yang bisa membuat jalan tersebut mampu mencapai nilai ekonomisnya. Untuk mensukeskannya, Bung Karna menyediakan ratusan ribu bibit jenis trembesi guna merawat kondisi jalan sehingga air agar segera diserap akar pohon. Perawatan jalan stonehange juga dilakukan dengan cara membuat saluran drainase Penghijauan melalui inovasi Jalan Wali ini juga untuk mencegah terjadinya bencana tanah longsor, dan banjir saat musim hujan yang membahayakan bagi warga dan wisatawan. Pohon merupakan salah satu unsur yang penting bagi kehidupan, terutama kehidupan bagi manusia. Karena pohon mempunyai banyak manfaat seperti sebagai penghasil oksigen, pencegah banjir dan longsor, melawan pencemaran udara, dan mengurangi pemanasan global. Selain itu, sangat bermanfaat apalagi ketika cuaca sedang panas-panasnya bisa sangat bersahabat bagi para pengguna jalan. Bung Karna memilih pohon trembesi karena pohonnya besar seperti payung. Akar, batang, dan dahannya sangat besar seperti raksasa pohon yang indah. Naungan daun pohon trembesi bisa menurunkan suhu udara sekitarnya. Kesejukan itu juga disebabkan pohon trembesi mampu menyerap gas karbon dioksida di udara. Sehingga penanaman pohon ini sangat tepat. C. Inovasi Thompson Partable Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi merupakan pengaturan dan perawatan pintu – pintu pada bangunan air (bending) untuk menyadap atau menampung air dari sumber air ke dalam jaringan irigasi untuk dialirkan guna kepentingan pertanian dan membuang kelebihan air ke saluran pembuang. Untuk memudahkan, Bung Karna melahirkan inovasi yang dikenal dengan sebutan Thompson Partable. Inovasi ini berupa alat pengukur debit air sehingga manfaatnya dirasakan masyarakat petani. Dengan inovasi Thompson Partable pembagian air bisa maksimal dengan waktu yang maksimal dan air yang tercukupi. Sehingga ketersediaan dan kebutuhaan air di masing-masing Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) bisa tercukupi. Dengan pengukur air ini, para juru pengairan dan HIPPA akan nyaman serta bisa bekerja secara efektif. Debit air akan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan petani. Inovasi Thompson Partable juga menjadi alat untuk menentukan efisiensi air yang masuk ke masing-masing HIPPA dan terukur. Air sawah bisa tertangani dengan baik dan sesuai dengan takaran yang dibutuhkan petani dengan waktu yang akurat. D. Inovasi Pelaporan Melalui SMS Bung Karna memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memudahkan kegiatannya di di bidang pertanian, sehingga mendukung petani untuk dapat mengembangkan suatu sistem pada kegiatan pertanian, khususnya irigasi yang bertujuan untuk membantu meringankan pekerjaan petani. Sehingga lahir inovasi dengan sistem pelaporan irigasi menggunakan pesan singkat (SMS) yang berfungsi untuk mengirimkan pesan laporan irigasi terkait ketersediaan dan kebutuhan serta pembagian air untuk petani. Inovasi inilah juga yang mengantarkan nama Bondowoso di tingkat Nasional. Bahkan, inovasi ini sudah diupdate Kementerian PUPR RI untuk dijadikan sistem pelaporan irigasi Nasional. Aplikasi ini dinilai bagus karena pelaporan biasanya dilakukan selama 10 hari sekali. Tapi dengan adanya inovasi baru ini, pelaporan bisa dilakukan setiap hari. Sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa terpenuhi kebutuhan airnya setiap hari karena komputer akan mengevaluasi secara otomatis. Saat menerima SMS, komputer akan langsung mengevaluasi secara otomatis dan saat itu juga langsung mengeluarkan keputusan sehingga petani bisa terlayani dengan baik. Aplikasi ini juga bisa mengontrol distribusi air ke petak-petak yang memang dibutuhkan petani. Karena setiap hari juru pengairan harus bisa mengukur debit air. Sehingga mempermudah pengaturan dan distribusi air ke petani tanpa ada keluhan sedikitpun. Inovasi ini juga yang mengantarkan Bondowoso menjadi juara Nasional karena dinilai unik dan tim juri menegaskan inovasi ini yang pertama di Indonesia. Sehingga Bondowoso dijadikan kiblat pengaturan distribusi air melalui system aplikasi SMS. Sejak diberlakukan sistem ini, para petani tidak lagi mengeluh kekurangan air karena distribusi air bisa dibagikan secara merata dan adil. Saat kemarau datang tentu debit air berkurang sehingga bersama HIPPA, dan Gabungan HIPPA harus mengatur dengan baik agar distribusi air merata dan tidak dikeluhkan petani. Inovasi ini juga menjadi jawaban persoalan petani yang biasa dihadapi saat musim kemarau tiba. Bung Karna Apresiasi Juru Pengairan Juru pengairan yang sehari-hari bertugas memutar pintu untuk mengalirkan suplai air dari sungai masuk ke jaringan irigasi induk, baik sekunder, primer maupun tersier bukanlah tugas yang mudah dan bisa dipandang remeh begitu saja. Pasalnya, tugas keseharian seorang juru pengairan tidaklah mudah. Untuk itu, Bung Karna mengapresiasi kinerja bawahannya itu. Karena juru pengairan memiliki kontribusi atas pemenuhan kebutuhan pangan daerah. Sekalipun tidak meraih prestasi, pekerjaan mereka sangat mulya karena terkait dengan hajat orang banyak. Sementara prestasi yang diraihnya merupakan bonus dari hasil kerja keras semua pihak dan sebagai bukti Bung Karna melakukan pembinaan dengan benar sehingga meraih prestasi tertinggi. Penghargaan yang diraihnya dalam rangka memberikan apresiasi kinerja dan mendorong peningkatan kompetensi para Petugas Operasi dan Pemeliharaan(O&P) Jaringan Irigasi oleh Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten, dalam upaya peningkatan O&P Jaringan Irigasi secara lebih efektif dan efisien. Juru pengairan yang setiap hari mengalirkan suplai air ke lahan pertanian yang ada agar tidak kekeringan dan bertugas menjamin petani pemilik lahan bisa terus bercocok tanam setiap musim ini, bukan merupakan pekerjaan mudah. Dimana, setiap juru pengairan harus bertanggungjawab membagi kebutuhan suplai air di seluruh lahan pertanian yang menjadi wilayah tugasnya dan itu dilakukan dengan baik memakai inovasi baru. Mereka harus memastikan setiap lahan pertanian tidak sampai kering dan bisa digunakan bercocok tanam setiap musim tanpa terlambat dan tanpa dikeluhkan. Prestasi yang pertama kali diraihnya itu menjadi komitmen barsama hingga akhirnya menjadi nyata dan sejarah mencatat Dinas Pengairan dan Dinas PUPR yang dipimpin Bung Karna bisa meraih prestasi berturut-turut selama tiga tahun, 2015, 2016, dan 2017 di tingkat Nasional. Bung Karna bersama jajarannya terus berkomitmen melakukan inovasi baru yang lebih baik dan lebih kreatif. Salah satunya memberikan perhatian khusus pada upaya-upaya peningkatan Operasi dan Pemeliharaan (O&P) jaringan irigasi di Bondowoso secara menyeluruh. Setidaknya ada lima faktor penting dalam menentukan keberhasilan suatu penyelenggaraan OP jaringan irigasi, yaitu terkait kondisi prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelola irigasi dan sumber daya manusia. Bung Karna juga intens melakukan pembinaan dan pemberdayaan bagi para petugas pelaksana OP jaringan irigasi di tingkat lapangan yaitu para pengamat dan juru pengairan atau dengan nama lain dari berbagai strata pemerintahan dalam pengelolaan irigasi secara berkesinambungan. Bung Karna menegaskan semua penghargaan yang diraihnya tidak instan karena sudah dipersiapkan beberapa tahun sebelumnya. Itupun awalnya tidak mempersiapkan sekedar ingin mengikuti lomba, melainkan untuk memberikan pelayanan terbaik terhadap masyarakat dalam bidang irigasi sehingga petani bisa merasakan manfaatnya. Begitu mendapat informasi ada lomba, dia tertarik dan langsung melakukan pemetaan daerah yang dimungkinkan siap diikutkan dalam lomba tingkat Provinsi hingga Nasional. Tentu, pemetaan itu dilihat dari kesiapan kegiatan, sumberdaya manusia, dan kesanggupan petugas di lapangan, utamanya juru pengairan. Bung Karna kemudian datang ke beberapa UPT Pengairan untuk melakukan pemetaan daerah yang sangat mungkinkan untuk diikutkan lomba. Setelah dilakukan kajian, baru dievaluasi dan menghasilkan keputusan yang siap untuk mengikuti lomba adalah UPT Tlogosari yang saat itu dipimpin Mulyono. Setelah diputuskan UPT Pengairan Tlogosari untuk diikutkan lomba, Bung Karna bersama jajarannya rutin melakukan pembinaan, mulai administrasi dan semua kegiatan di lapangan. Sehingga sumber daya manusia para petugas di lapangan benar-benar mumpuni dan siap diikutkan dalam lomba tingkat Provinsi hingga Nasional. Selain itu, Bung Karna harus melahirkan invosi baru agar pelaksanaan keigatan Gemapildasi terealisai dengan baik. Akhirnya, Bung Karn meminta agar yang berada di lapangan menanami pepohonan di sepanjang sungai aliran irigasi. Untuk menumbuhkan semangat yang tinggi, Bung Karna memberikan bantuan secara maksimal berupa sarana dan prasaran kegiatan dalam persiapan lomba. Sehingga UPT yang ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan tinggal menggerakan saja dan mendapat dukungan penuh dari Dinas Pengairan Bondowoso. Dukungan dinas membuat mereka tidak merasa terbebani dengan adanya lomba. Sehingga bisa memotivasi untuk memenangkan lomba. Upaya Bung Karna Pertahankan Penghargaan Untuk mempertahankan penghargaan tertinggi ini, Bung Karna terus melakukan terobosan dengan berbagai inovasi baru dan pembinaan yang intens. Salah satunya meningkatkan partisipasi petani agar meningkatkan rasa memiliki, rasa tanggungjawab serta meningkatkan kemampuan masyarakat petani dalam rangka mewujudkan efisiensi, efektifitas dan keberlanjutan sistem irigasi. Karena adanya peran aktif petani dan HIPPA serta UPT dalam kegiatan Operasi dan Pemeliharaan (O&P) dapat menjamin keberlangsungan dan terjaganya kondisi dan fungsi jaringan irigasi. Pemberdayaan petani pemakai air dalam kegiatan O & P merupakan upaya membantu pemerintah dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan irigasi yang dilakukan secara individu petani, secara kelompok atau gotong royong, meliputi segala tindakan yang terkait dengan upaya pengoperasionalan pendistribusian air dan pemeliharaan jaringan irigasi tanpa mengurangi batas kewenangan Pengamat Pengairan. Selain itu, Bung Karna juga menghidupkan kegiatan silaturahmi dengan Pengamat atau UPT Pengairan serta gotong-royong sebagai bagian dari koordinasi merupakan azaz yang harus dikembangkan petani dalam segala kegiatan O & P dengan melibatkan peran aktif HIPPA dalam pelaksanaan kegiatan operasi jaringan irigasi. Tujuannya untuk membantu keterbatasan kemampuan pemerintah, pengamat pengairan, baik dalam segi waktu, tenaga maupun biaya, dalam penyelenggaraan kegiatan operasi jaringan irigasi. Terselenggaranya pengaturan air secara adil antara pemanfaat di hulu dan pemanfaat air di hilir. Dengan inovasi Thompson Partable dan pelaporan menggunakan SMS, Bung Karna mampu mengurangi potensi konflik sesama petani sehubungan dengan pemakaian air irigasi. Terjaminnya keandalan penyediaan air serta tercapainya pola tanam dan intensitas tanam rencana yang disesuaikan dengan target pemerintah. Petani juga dapat berpartisipasi dan berperan aktif dalam penyusunan rencana tata tanam musim tanam berikutnya dengan memberikan masukan, saran, gagasan dan pemikiran kepada HIPPA ataupun pemerintah, yang disesuaikan dengan kebutuhan, kodisi sosial budaya dan kemampuan ekonomi masyarakat petani. Bentuk partisipasi dan peran aktif petani atau HIPPA ini berupa usulan rencana tata tanam, pola tanam, jadwal tanam dan jadwal pemberian atau pembagian air serta usulan perubahan-perubahannya jika diperlukan sepanjang kurun waktu musim tanam. Dengan begitu, pengamat pengairan mempertimbangkan usulan, masukan, saran dan gagasan tersebut berdasarkan aspek teknis (ketersediaan air, kemampuan jaringan irigasi, dan lainnya) dan target-target Pemerintah. Secara pribadi petani dapat melakukan penjagaan, pemantauan dan pengoperasian dengan jalan mencegah, mengingatkan, menegur dan melaporkan ke petugas pengairan. HIPPA juga dimotivasi berperan aktif dalam membina, membangkitkan rasa memiliki dan semangat gotong royong, musyawarah dan mufakat terkait dengan pelaksanaan operasi jaringan irigasi. Mengingatkan, menegur dan memberi sangsi kepada anggotanya yang melakukan pelanggaran yang dapat mengganggu pelaksanaan operasi pemberian atau pembagian air yang adil dan merata. Untuk mendukung terjaminnya agar berjalan maksimal, petani ataupun HIPPA harus mencegah terjadinya pengambilan air secara tidak sah atau ilegal seperti pembuatan pelompong liar, disaluran primer dan sekunder secara pribadi maupun berkelompok, karena akan mengganggu pengoperasian dan pembagian debit air tidak dapat terpantau dan terukur dengan baik. Petani dan HIPPA juga aktif membantu menjaga keberadaan bangunan air dan kelengkapannya dari upaya pengerusakan atau pencurian karena akan menggangu pengoperasian dan pembagian debit air tidak dapat terpantau dan terukur dengan baik. Petani ataupun HIPPA juga bisa membuka diri dan wawasan untuk menerima serta menerapkan inovasi teknologi budidaya pertanian terbaru dan telah terbukti memberi hasil yang lebih baik dan lebih menguntungkan. Kalau perlu, harus mulai diwacanakan untuk mencoba menguasai teknik budidaya tanama terbaru. Dengan adanya dukungan banyak pihak dan karja sama serta partisipasi semua elemen masayarakat petani, penghargaan tertinggi terus didapatnya hingga tiga kali berturut-turut. Bung Karna Berhasil Pertahankan Penghargaan Bung Karna berhasil mempertahankan penghargaan tahun pertamanya sejak menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta menjadi penghargaan ketiga berturut-turut sejak diangkat sebagai Kepala Dinas Pengairan. Penghargaan ketiganya diraih setelah Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Sido Makmur menjadi juara satu dalam Lomba OP Irigasi Partisipatif Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) tingkat Nasional. Penghargaan ini diterima langsung oleh Ketua HIPPA Sido Makmur, Anang Danafiah bersama Kepala Dinas PUPR, Drs. H. Karna Suswandi, MM di Kantor Kementerian PUPR RI, Jl. Pattimura No 20 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Ungkapan syukur dan terima kasih diucapkan Anang Danafiah atas dukungan penuh yang diberikan oleh Dinas PUPR pimpinan Bung Karna yang dianggapnya tidak pernah bosan membimbing dan mendukung sehingga menjadi motivasi tersendiri. Diakuinya, penghargaan tertinggi tersebut diraih berkat tangan kreatif dan pemikiran inovatif Bung Karna. HIPPA Sido Makmur sendiri memperoleh nilai akhir sebesar 442,64. Unggul dari HIPPA Triguna Tirta dari Yogyakarta saat itu yang memperoleh nilai akhir sebesar 420,83. Sebelum penilaian lapang yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya, HIPPA Sido Makmur sempat berada pada posisi kedua setelah HIPPA Triguna Tirta dengan nilai presentasi 275,18. Namun, penilaian terakhir HIPPA Sido Makmur berhasil mengunggulinya. Bertabur prestasi tak membuat Bung Karna puas bekerja, melainkan terus berkomitmen memberdayakan HIPPA yang ada di Bondowoso serta meningkatkan ketahanan pangan dan membangun sistem irigasi yang handal dengan mengutamakan peran masyarakat petani. Karena tidak dapat dipungkiri, petani merupakan ujung tombak irigasi partisipatif dalam keseluruhan tahapannya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan pembangunan, operasi, pemeliharan, sampai dengan rehabilitasi. Keberhasilan HIPPA Sido Makmur meraih prestasi menjadi bukti nyata kerja kolektif banyak pihak. Bung Karna terus memberi semangat para petani dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan jaringan irigasi tersier yang menjadi tanggung jawabnya. Bung Karna melalui Dinas PUPR juga berupaya mendorong peningkatan produksi padi yang tidak bisa dilepaskan dari fungsi prasarana irigasi baik dari segi kuantitas, kualitas maupun fungsinya yang harus ditingkatkan. Salah satunya adalah membangun sistem irigasi yang handal dengan anggaran yang memadai. Meski anggaran dari APBD Pemkab Bondowoso saat itu hanya Rp 57 Miliar, Bung Karna mampu mencari terobosan hingga mencapai Rp 187 miliar dengan rincian Rp 110 Miliar bantuan dari Provinsi Jawa Timur, Rp 20 Miliar dari Pemerintah pusat. Semua anggaran itu diperuntukkan menopang infrastruktur pertanian bidang irigasi. Sementara dalam pembangunan irigasi, Bung Karna melibatkan HIPPA sebagai organisasi pengelola jaringan irigasi di tingkat desa. HIPPA Sido Makmur merupakan salah satu HIPPA binaan Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas PUPR. Penghargaan yang diraihnya tentu melalui proses yang panjang dan penuh rintangan. Bermula pada tahun 2014, HIPPA Sido Makmur mendapatkan predikat pemenang Pertama HIPPA berprestasi tingkat Kabupaten Bondowoso. Selanjutnya, Bung Karna terus melakukan pembinaan dengan kerja keras yang kreatif dan inovatif sehingga membuat HIPPA Sido Makmur menjadi juara I tingkat Bakorwil Malang. Setelah menjadi juara 1 tingkat Bakorwil Malang, HIPPA Sido Makmur menjadi juara pertama tingkat Provinsi yang akhirnya menjadi juara tingkat Nasional. HIPPA Sido Makmur lebih dulu mengikuti serangkaian penilaian Sarasehan di Bakorwil Malang pada 27 Mei 2015 dengan Ketua tim Juri Kepala Bakorwil, Drs. Jonathan Judianto, M.MT. Setelah itu, dilanjutkan dengan peninjauan lapangan pada tanggal 15 Juni 2015 dan HIPPA Sido Makmur mendapat penilaian sarasehan bobot 40% dan peninjauan lapangan mendapat 60%. Penilaian mencakup aspek kelembagaan dan keuangan yang langsung dinilai oleh Dr. Sri Mulyaningsih, SE, MSP. Sedangkan untuk aspek Tekhnis Irigasi dinilai oleh Ir. Ninik Purwandari, MT dan Aspek Pertanian dinialai oleh Ahmad Arifin, SE,M.Agr. Lomba ini juga diikuti oleh HIPPA dari Kabupaten Probolinggo, Banyuwangi, Kota Probolinggo, dan Sidoarjo. Mulanya, saat Sarasehan HIPPA Sido Makmur Bondowoso berada di posisi ketiga dan kalah dengan HIPPA Arum Wangi Kabupaten Banyuwangi yang berada di peringkat pertama dan di bawahnya ada HIPPA Sido Mulyo Kabupaten Probolinggo. Akan tetapi HIPPA Sido Makmur mampu membuktikan bahwa HIPPA Sido Makmur berhasil memperbaiki posisi ke peringkat pertama setelah diadakan peninjauan lapangan yang dilakukan oleh Tim Juri dari Bakorwil Pemerintahan dan Pembangunan Malang. Kata Bung Karna, aspek yang mendukung kemenangan tersebut karena kesesuaian antara paparan sarasehan dan kondisi di lapangan. Selain itu, pembukuan dan administrasi yang baik, serta jaringan irigasi yang baik dan terawat juga sempat membuat tim juri terkagum-kagum dan merasa bangga saat. Ditambah lagi dengan sistem pertanian yang mengandalkan bibit varietas baru yaitu Gorontalo dimana produktivitasnya bisa mencapai 20 ton/Ha sehingga HIPPA Sido Makmur mendapat total nilai 153, 47 dan mengalahkan HIPPA Sido Mulyo Kabupaten Probolinggo dengan nilai 151, 71, serta HIPPA Arum Wangi Kabupaten Banyuwangi dengan nilai 145,04. Sehingga HIPPA Sido Makmur berhak mewakili Bakorwil Pemerintahan dan Pembangunan Malang pada Evaluasi HIPPA/GHIPPA Tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2015. Sedangkan untuk lomba HIPPA tingkat Provinsi Jawa Timur, HIPPA Sido Makmur sudah tidak tersaingi sejak awal, baik saat penilaian Sarasehan maupun Lapangan sehingga dinobatkan juara pertama dan berhak mewakili Jawa Timur untuk lomba tingkat Nasional yang akhirnya meraih juara satu tingkat Nasional. Dalam lomba, Bung Karna tidak memiliki persiapkan khusus untuk memenangkan lomba HIPPA tingkat Nasional. Itu karena HIPPA Sido Makmur secara keorganisasian telah berjalan sesuai dengan visi dan misi serta tugas dan fungsinya. Kegiatannya juga sudah berjalan setiap hari dan bukan karena hanya untuk mengikuti lomba saja. Dari awal Bung Karna sudah optimis dan yakin bahwa HIPPA Sido Makmur akan mengukir prestasi dan memenangkan lomba tingkat Nasional. Karena secara keorganisasian HIPPA Sido Makmur sudah matang dan kegiatannya berjalan dengan optimal dan maksimal. HIPPA Sido Makmur juga dalam pengaturan pengelolaan irigasi dari tahun ke tahun yang menjadi kebutuhan masyarakat petani untuk meningkatkan usaha tani sudah berjalan dengan baik. Sehingga kondisi ketersediaan air yang menurun terutama pada musim kemarau dengan pengaturan yang optimal serta pola tanam yang telah ditetapkan bisa teratasi dan mampu menekan permasalahan, antara lain pembagian air yang kurang merata, konflik antar petani, pengrusakan saluran irigasi dan permasalahan lain yang meresahkan petani. Pemberdayaan HIPPA Sido Makmur yang dilakukan Bung Karna untuk dapat mencapai pengelolaan irigasi partisipatif merupakan pelaksanaan irigasi berdasarkan partisipasi petani yang dimulai sejak ide pertama hingga keputusan akhir, pada kegiatan perencanaan, konstruksi, peningkatan, operasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi. Semua itu tercapai karena HIPPA Sido Makmur sebagai organisasi kemasyarakatan yang bersifat sosial mempunyai kelembagaan yang kuat, memahami teknis irigasi dan mandiri dalam pembiayaan sesuai dengan kewenangannya dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi. Jalan Wisata Beto Soon Jadi Percontohan Nasional Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jatim mengusulkan akses jalan Wisata Beto Soon menjadi percontohan nasional. Usulan itu dilakukan setelah tim Kementerian PUPR Balai Besar 8 Wilayah Jawa Timur melakukan monitoring terhadap pelaksanaan pembangunan infrastruktur berupa pengaspalan jalan menuju kawasan wisata Beto So'on (Batu Susun), di Desa Solor, Kecamatan Cermee, pada Rabu;, 13 September 2017. Jalan aspal hotmix yang membentang dari Desa Cermee, Batu Ampar, dan Solor, kurang lebih sepanjang 12 km ini dikerjakan dengan hati-hati dan hasilnya sesuai harapan bersama. Hasil garapan ini membuat Perencana dan Pengawas Jalan Nasional (P2JN) Kementerian PUPR mengaku puas. Hal itu diungkapkan Drs. Adi Suwito, ST bagian P2JN Kementerian PUPR Provinsi Jawa Timur yang merasa bangga dan puas dengan hasil yang telah dicapai dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan bulan proses pengerjaannya sudah mencapai 50%. Selama pembangunan berjalan belum ada laporan mengenai kendala dan terhambatnya pembangunan dan hasilnya juga bagus. Dia menilai kualitasnya sangat bagus dan patut diapresiasi. Saat masih proses pengerjaan lapen sudah sangat bagus, mulai dari material yang tersedia, dipasang, hingga garapannya juga bagus. Nantinya juga masih akan dihotmix setelah proses pengerjaan lapen selesai. Adi Suwito juga menilai pembangunan jalan hotmix menuju kawasan wisata Beto So'on (Batu Susun) atau yang disebut “Stonehange”-nya Indonesia ini sesuai harapan dan berjalan lancar. Saat itu, dia memberikan beberapa rekomendasi dan arahan agar berjalan maksimal serta asas manfaatnya terasa baik bagi masyarakat. Semua rekomendasi dan arahan itu dilakukan dengan baik sesuai petunjukkan. Fasilitas jalan merupakan sebuah akses untuk melancarkan perputaran roda ekonomi masyarakat dan sebagai sarana prasarana transportasi di sektor pendidikan. Sehingga, pemanfaatan dari jalan tersebut bisa dinikmati masyarakat sekitar dan seluruh masyarakat lainnya yang hendak melihat keindahan alam. Selain itu, sebagai penunjang di sektor kepariwisataan. Dimana Desa Solor dikenal memiliki Stonehange-nya Indonesia yang kalau orang sini (Bondowoso, red) menyebutnya Beto Soon yang tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan tempat wisata yang terdapat di luar Negeri. Dengan terealisasinya akses jalan bagi masyarakat yang berdampak pada peningkatan di segala aspek, juga karena kualitas pengerjaan pembangunan jalan hotmix sangat bagus, untuk itu Adi Suwito mengusulkan jalan itu menjadi Percontohan Nasional. Usulan ini pun dianggapnya sangat layak karena adanya beberapa indikator yang menurut Adi Suwito memenuhi kriteria. Kriterianya banyak dan akses jalan ini memenuhi beberapa kriteria yang ada. Apalagi, pengerjaannya juga sangat bagus setelah dilihat dari bawah hingga ke lokasi wisata. Jadi, Jawa Timur mengusulkan lokasi ini agar jadi Percontohan Nasional. Atas capaian itu, Bung Karna tentu merasa bangga dan bersyukur serta mengucapkan terima kasih jika pengaspalan jalan menuju akses wisata Beto Soon itu diusulkan jadi jalan Percontohan Nasional. Hal ini juga akan membuat bangga masyarakat Bondowoso karena kualitas infrastruktur berskala Nasional. Artinya, kualitas infrastruktur di Bondowoso mampu bersaing di tingkat Nasional. Bagi Bung Karna, pembangunan infrastruktur merupakan jantung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Infrastruktur menjadi salah satu aspek penting dan vital untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Lebih dari itu, infrastruktur juga merupakan salah satu faktor penentu dalam pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, Bung Karna memberikan porsi besar untuk pembangunan infrastruktur di Bondowoso meski harus mengunduh sejumlah program dari Pusat dan Provinsi Jawa Timur karena kekuatan APBD Bondowoso masih minim. Tanpa komitmen yang kuat, Bondowoso akan terus terjebak pada kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan.